Minggu, 24 Juni 2012
Kawan, sungguh aku benci saat-saat seperti ini. Aku benci
pada diriku sendiri yang tak mampu menyelesaikan masalahku sendiri. Aku benci.
Aku merasa bodoh dan tak bisa menjadi Intan yang biasanya.ketika kita tinggal
satu rumah dengan orang yang awalnya tak kita kenal sama sekali. Kemudian 5
bulan lebih kita mencoba mengenal, berbagi cerita, canda dan tawa. Hingga rasa
kekeluargaan kita semakin erat, dan aku semakin menyayanginya. Aku sudah menganggapnya
seperti kakakku sendiri. Dan ketika terjadi masalah, dimana aku tidak tau apa
maslahnya dan aku merasa akulah yang menjadi masalah, rasanya sungguh sakit dan
tembok besar hadir menghalani hubungan diantara kita. Tembok yang entah
darimana asalnya, tapi hadirnya tembok itu sungguh merubah segalanya. Tak ada
lagi canda dan tawa, tak ada lagi tegur sapa diantara kita. Tidak ada. 3 hari
sudah itu semua terjadi padaku. Kakakku diam padaku, entah mengapa. Aku
bingung, aku merasa hari sebelumnya hubungan kami baik-baik saja, dan aku pun
tidak kerasa ada sesuatu yang aku lakukan sampai menyakiti hatinya. Tapi
mengapa tembok itu seolah hadir dan memisahkan kami ? kenapa ?
Sebenarnya ini masalah yang mudah untuk banyak orang, tapi
buatku ini begitu sulit, teramat sangat sulit. Aku tau, cara menyelesaikannya
hanya dengan kita berbicara dari hati ke hati, menanyakan permasalahan yang ada
agar semua menjadi jelas, tapi itu sangat sulit aku lakukan. Aku tak bisa
memulainya. Entah mengapa rasanya begitu berat ketika aku harus menyapanya
melewati tembok besar. Hari pertama tembok itu hadir aku sudah mencoba sebisaku
bersikap biasa, tapi setelah 4 hari sepertinya tembok itu semakin tinggi,
hingga suara yang aku keluarkan tercekat dalam tenggorokan, dan kalaupun bisa
kukeluarkan terpantul oleh tembok itu hingga ia tak mendengarnya.
Kawan, mengapa aku begitu penakut, untuk menyelesaikan
masalah seperti ini saja aku tak mampu. Hanya satu kalimat yang harus aku
keluarkan, “mbak, kok belakangan ini diem terus sama aku, ada masalah apa ? ada
yang hisa diceritain?” ya, cukup kalimat itu saja yang harus aku keluarkan,
tapi aku tak mampu. Aku lebih mampu berbicara didepan dosen dari pada harus
berbicara dengan orang terdekatku tetapi ada tembk besar yang menghalangi.
Astaghfirullah… sepenakut itukah aku? Aku sendiri tak mengerti apa yang
membuatku takut dan sulit untuk memulai pembicaraan,toh tidak akan dihukum jika
aku salah, justru ini harus aku lakukan, tapi rasanya begitu sulit.
Mungkin aku butuh orang ketiga, tapi aku takut itu justru
akan membuatnya semakin diam, dan justru marah padaku. Aku bingung. Sungguh aku
merindukannya, aku sangat merindukannya. Lama aku tak mendengar sapaannya,
suara yang setiap pagi terngiang ditelingaku, sapaan riangnya ketika memanggil
namaku. Aku sudah menganggapnya sebagai ibu, kakak, adik dan sahabat untukku.
Tapi semuanya menghilang sudah 4 hari. Ya Allah, aku bingung, berilah
petunjukMu. Aku ingin keadaanya kembali seperti semula. Hangat, menyenagkan,
penuh canda dan tawa. Ya Allah, cepat perbaiki keharmonisan hubungan kami, aku
mohon. Hanya Engkau yang dapat membantuku. Semoga Engkau cepat memberi petunjuk
padaku agar tembok itu tak semakin tinggi menghalangi keharmonisan hubungan
kami. Aamiin.
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar